Pengembangan Teori Hukum untuk Perlindungan Lingkungan dan Pemulihan Hak Korban (pembelajaran praktek hukum di jepang)

Pengembangan Teori Hukum untuk Perlindungan Lingkungan dan Pemulihan Hak Korban (pembelajaran praktek hukum di jepang)

image
By usi_pasca On Friday, March 17 th, 2017 · no Comments · In

Kasus polusi terbesar yang pernah dialami oleh negara Jepang mulai peristiwa Minamata disease, Itai-itai disease, Yokkaichi asthma hingga Niigata minamata disease, menjadikan negara ini belajar untuk peduli terhadap lingkungan, baik perilaku warganya hingga penegakkan hukum terhadap perusak lingkungan hidup, ini yang disampaikan oleh Prof. Yuzuru Shimada dari Nagoya University dalam paparannya sebagai pembicara di acara Kuliah Tamu yang diadakan oleh Program Studi Magister Sains Hukum dan Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga yang mengangkat tema Pengembangan Teori Hukum untuk Perlindungan Lingkungan dan Pemulihan Hak Korban (pembelajaran praktek hukum di jepang) yang dimoderatori langsung oleh Ketua Program Studi MSHP Suparto Wijoyo, Kamis 16 Maret 2017.

Diitambahkan pula dalam paparannnya perubahan menjadi lebih baik ini tidak lahir secara tiba-tiba karena butuh waktu yang tak sedikit, menurut data di tahun 60 an ketika Jepang begitu pesat pertumbuhan ekonominya tingkat pencemaran lingkungan pun tinggi hingga berdampak terhadap kesehatan warganya dan baru di tahun 70 an kesadaran akan perbaikan lingkungan hidup dan kesehatan terbangun, dan dalam prosesnya ada kisah heroik yang cukup tragis dimana seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang bernama Shozo Tanaka mengkritisi keras beragam kebijakan pemerintah yang terkesan pro terhadap industri yang melakukan pencemaran padahal sudah muncul korban jiwa di kalangan masyarakat, dia melayangkan protes tapi tidak pernah di gubris tidak hanya di kalangan pemerintahan melainkan juga di kalangan parlemen, hingga dia menggunakan harta yang dimilikinya untuk berjuang menyelesaikan masalah ini, dan hingga di akhir hayatnya seorang Shozo Tanaka meninggal dunia dalam keadaan miskin.

Dr. Herlambang P. Wiratraman sebagai pembicara kedua menggaris bawahi bahwa dari kasus yang terjadi di Jepang kita belajar bahwa kita harus mengedepankan inovasi hukum dimana yang dimaksud adalah penemuan hukum senantiasa memperjumpakan antara studi norma dan studi nomos dan pendekatan terhadap hukum bukan semata menyandarkan pada satu aliran filsafat hukum, melainkan melihat berdasarkan upaya mendekati konteks masalahnya.

dalam lanjutannya diungkap juga bahwa tidak bisa dipungkiri keterikatan antara penegakkan hukum dan faktor ekonomi serta politik juga berlangsung dalam kasus di Jepang.

beragam perspektif yang dihadirkan para narasumber adalah sebuah langkah dalam menggenapi semangat program studi Magister Sains Hukum dan Pembangunan untuk memposisikan hukum dapat melakukan pendekatan ke berbagai disiplin ilmu dalam mencari formula terbaik bagi tegaknya hukum di tanah air.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *