Surabaya, City of Sorrow ?

By admin_mshp On Friday, May 19 th, 2017 · no Comments · In

 

pppp

“Sparkling” kian remang dengan hasil riset tata kelola ekonomi daerah (TKED) yang menempatkan Surabaya pada ranking ke-27 (JP 27/4). Survey Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) menemukan fakta biaya pengurusan perizinan yang cukup tinggi, Pelaku usaha membayar transaski secara tidak resmi, Akses informasi terbatas bagi pelaku usaha kecil dan pelaku usaha harus membayar biaya tambahan bagi keamanan serta perlindungan bagi oknum.

Apakabar dengan perizinan Online yang di dengung-dengungkan selama ini, apakabar dengan penghargaan pelayanan publik yang sudah diterima oleh Pemerintah Kota ? mengapa pada abad 21 masih ada “sedekah” untuk memperlancar urusan birokrasi ?

Ditambah lagi dengan menurut Daftar Kolektif Hasil Ujian Nasional (DKHUN) SMA/SMK Surabaya seperti yang diberitakan oleh harian ini (30/4), Performance pendidikan kota Pahlawan singgah di lorong yang kelam. Meski urutan 21 lebih baik ketimbang tahun lalu yang bertengger di peringkat 27

Temuan KPPOD dan hasil UNAS merupakan peringatan keras yang semestinya menggugah seluruh elemen kota Surabaya untuk lebih mawas diri.

Surabaya yang “Sparkling” terjerembap menjadi “City Of Sorrow” dalam makna yang sarkastis.

Kedua fakta dimaksudkan bukan untuk disanggah melainkan dijadikan bahan perbaikan untuk merekonstruksi pola pembangunan kota.

Surabaya harus berbenah agar layak tampil sebagai bagian integral “cities of tommorow”.

Jadikanlah HARDIKNAS 2 mei 2017 dan HUT Surabaya ke-724 sebagai tonggak kebangunan pendidikan Surabaya.

Berikut cuplikan tulisan Suparto wijoyo Koordinator Magister Sains Hukum dan Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga dalam Catatan Metro, Around Surabaya, Metropolis dengan judul Surabaya, City of Sorrow ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *